Nusa One -

Adian Napitupulu : Ketum Projo Mengancam Siapa?

Adian Napitupulu : Ketum Projo Mengancam Siapa?
  

NusaOne.com|Jakarta — Sekjen Persatuan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) Adian Napitupulu mengkritik Ketua Umum Projo, Budi Arie atas pernyataannya “Karena kalau kalah meleset, bos, masuk penjara,” akan berdampak panjang termasuk berpotensi menguatnya polarisasi bahkan bisa merusak kualitas proses demokrasi karena demokrasi yang sehat hanya bisa tumbuh jika proses politik elektoral berjalan dalam kegembiraan bukan dalam ancaman dalam segala macam bentuknya.

Menurutnya, mengkaitkan kalah menang pemilu dengan penjara disisi lain bisa diartikan bahwa Projo menuding Presiden Jokowi selama 2 Periode gagal memisahkan penegakan hukum dan pilihan politik

“Kalimat ketum Projo itu kenapa bisa serupa dengan mind set orde baru yang menggunakan ancaman hukum dalam hal ini penjara pada partai politik dan siapapun yang berbeda pilihan politik dengan Orde Baru. Tentu sangat di sayangkan di era Reformasi saat ini pernyataan serupa masih saja bisa diucapkan.” Ujar Anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan tersebut dalam rilisnya, Sabtu (13/8.2020)

Adian menjelaskan, penjara itu sanksi hukum dari perbuatan yang melanggar hukum, bertentangan dengan hukum, tidak sesuai dengan kaidah hukum atau melawan hukum bukan sanksi dari perbedaan Politik bukan sanksi dari perbedaan pilihan dalam pemilu.

Sehingga, lanjutnya, dalam pilkada bahkan pilkades sekalipun, jika hanya ada satu calon maka untuk memastikan hak demokrasi berjalan selalu ada ruang bagi yang tidak bersetuju pada calon itu. Sehingga panitia penyelenggara pemilihan memungkinkan membuat satu kotak kosong agar Rakyat tetap boleh punya pilihan.

“Perbedaan Pilihan itu bahkan di lindungi oleh konstitusi kita.” Tegasnya

Lebih lanjut, kata Adian, salah satu kelebihan sistem demokrasi di banding sistem lainnya adalah karena demokrasi membuka ruang dan berterima terhadap perbedaan apapun selama sesuai dengan koridor hukum dan nilai-nilai Hak Azazi Manusia, termasuk membuka ruang pada perbedaan memilih Capres dan Cawapres bagi Partai dan perbedaan memilih bagi Rakyat dalam bilik suara.

“Jadi sebenarnya pernyataan Ketum Projo itu mengancam Partai, mengancam pelaku politik atau justeru mengancam Demokrasi dengan mengancam perbedaan pilihan atau jangan-jangan malah mengancam konstitusi yang jelas jelas melindungi Perbedaan. Untuk itu perlu rasanya Ketum Projo meralat dan meluruskan apa maksud dari pernyataannya.” Tutupnya.

Sementara itu, Ketum Projo Budi Arie sebagaimana dikutip dari laman Tribunnews.com pada Sabtu (13/8/2022) siang menjelaskan, Budi Arie mengatakan bahwa pernyataannya tersebut adalah upaya melihat realitas betapa politik hari ini jatuh pada model polarisasi oposisi biner, terlebih berbasiskan isu-isu SARA.

Dirinya juga berusaha mengingatkan kembali bagaimana demokrasi merupakan buah reformasi yang di dalamnya terukir cita-cita menyingkirkan KKN dari kehidupan bernegara Republik Indonesia.

“Dalam pernyataan tersebut, saya sama sekali tidak berupaya menihilkan penegakan hukum, dan saya sama sekali tidak meragukan penegakan hukum, terutama selama pemerintahan Jokowi 2014-sekarang,” kata Budi Arie. (Muslim)

Bagikan:

Warning: Undefined variable $post in /home/n1608374/public_html/nusaone.com/wp-content/themes/kompasX/functions.php on line 101

Warning: Attempt to read property "ID" on null in /home/n1608374/public_html/nusaone.com/wp-content/themes/kompasX/functions.php on line 101

Tinggalkan Komentar